Tugas Kelompok Dosen
pengampu
Pengantar studi islam dewi sri suryenti, M.Si
“METODOLOGI PEMAHAMAN ISLAM”

DISUSUN OLEH :
KELOMPOK 3
EKO PERDANA
11413103013
ISNA WATI
11413203074
NUR
AMALIA
11413200123
BK 1B
PROGRAM STUDI
ISLAM BIMBINGAN KONSELING
FAKULTAS
TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS
ISLAM NEGERI SULTAN SYARIF KASIM RIAU
PEKANBARU
2014
BAB I
PENDAHULUAN
Islam merupakan agama yang sangat
komplek. Sehingga dalam memahaminya pun dibutuhkan cara yang tepat agar dapat
tercapai suatu pemahaman yang utuh tentang Islam. Di Indonesia sejak Islam
masuk pertama kali sampai saat ini telah timbul berbagai macam pemahaman yang
berbeda mengenai Islam. Sehingga dibutuhkanlah penguasaan tentang cara-cara
yang digunakan dalam memahami Islam.
kehadiran agama islam yang dibawa
Nabi Muhammad Saw. Diyakini dapat menjamin terwujudnya kehidupan manusia yang
sejatera lahir dan batin. Di dalamnya terdapat beberapa petunjuk tentang
bagaimana seharusnya manusia itu menyikapi hidup dan kehidupan ini secara bermakna
dalam arti yang seluas-luasnya. Gambaran ajaran islam yang demikian ideal itu
pernah dibuktikan dalam sejarah dan manfaatnya dirasakan oleh seluruh umat
islam.
Dengan penyajian yang demikian itu,
makalah ini diharukan dapat membantu pembaca dalam memahami ajaran islam.
Dengan demikian mkalah ini menempati posisi sebagai pengantar yang diharakan
dapat menunjukan dengan jelas tentang bagaimana ajaran islam itu seharusnya
dipahami
Maka, dalam makalah ini penulis akan
mencoba membahas mengenai metodologi serta beberapa hal yang berkaitan untuk
memahami Islam di Indonesia.
BAB II
PEMBAHASAN
METODOLOGI
PEMAHAMAN ISLAM
Istilah
dari metodologi berasal dari bahasa yunani, yakni methodos dan logos. Methodos
berarti cara, kiat, dan seluk beluk yang berkaitan dengan upaya menyelesaikan
sesuatu. Sementara logos berarti ilmu pengetahuan, cakrawala, dan wawasan.
Dengan demikian, metodologi adalah pengetahuan tentang metod[1]e
atau cara-cara yan berlaku dalam kajian atau penelitian. Bagaimana cara kita memperoleh pengetahuan yang benar?
Untuk mendapatkan pengetahuan itu, kita harus mengetahui metode yang tepat
untuk memperolehnya.
Maka dapat diartikan bahwa metodologi
pemahaman islam adalah cara-cara yang
dikemukakan oleh seseorang atau kelompok dengan tidak keluar dari pedoman agama
Islam itu sendiri (Al-Qur’an dan hadits) supaya dapat magetahui bagaimana cara
memahami agama islam dengan benar.
Selain
itu, metodologi adalah pengetahuan tentang metode-metode. Jadi, metodologi
penelitian adalah pengetahuan tentang berbagai metode yang dipergunakan dalam
penelitian. Louay safi mendefinisikan metodologi sebagai bidang penelitian
ilmiah yang berhubungan dengan pembahasan tentang metode-metode yang digunakan
untuk mengkaji fenomena alam dan manusia, atau dengan redaksi yang lain, “metodologi
adalah bidang penelitian ilmiah yang membenarkan, mendeskripsikan, dan
mejelaskan aturan-aturan, prosedur-prosedur sebagai metode ilmiah. Penilaian
ini mrncakup penelitian lapangan (field research) maupun penelitian pustaka
(library research) bahkan bila ditelusuri lebih luas lagi, penelitian kulitatif
dan penelitian kuantitatif. Kaarena ada anggapan behwa sebagian sarjana kita
bahwa yang dianggap penelitian adalah penelitian lapangan (filed research).
Cara pandang pemikiran louaysafi mengikuti alur pemikiran Ismail Raja
al-Faruqi, seorang pemikir palestina yang menetap dan menjadi guru besar
diamerika. Namun, yang penting dariusulan Ismail Raja al-furuqi adalah
pemikirannya dalam menegakkan prinsip-prinsip metodologi islam. Al-furuqi
mengidentifikasi lima prinsip metodologi islam yang di ungkapkannya dengan
istila “lima kesatuan” yaitu kesatuan allah, makhluk, kebenaran, kehidupan, dan
humanitas.
Perkambangan
metodologi dan pendekatan dalam kajian islam
Terdapat
perkembangan yang menarik dalam kajian keislaman di universitas-universitas di
amerika. Tidak diragukan lagi bahwa perubahan merumuskan kembali metodologi
yang lebih efektif dan mengkaji dan menyajikan fenomena keagamaan islam. Hal
yang menarik adalah bahwa dalam proses pencarian ini, partisipasi ilmuwan
muslim, baik yang telah menjadi warga maupun yang khusus diundang dari
negeri-negeri muslim, diturutsertakan. Hampir setiap universitas yang mempunyai program studi keislaman
biasanya mempunyai beberapa ahli muslim, baik sebagai tenaga tetap atau sebagai
dosen tamu ( visitting scholar). Hampir
semua konferensi dan seminar yang relevan dengan islam dan negeri-negeri muslim
tidak akan lengkap tanpa kehadiran tokoh ilmuwan muslim. Sebagai contoh tahun
yang lalu, Dr. M. Atho’Mudzhar telah diundang oleh stanford universty untuk
menghadiri simposium dan memberikan kuliah sserta memberikan sudut pandang
hukum islam dalam forum “law and society” dan UCLA juga telah mengundangnya
untuk menyampaikan makalah tentang perkembangan pendidikan islam di indonesia.
Mentri agama [ Dr. Tarmizi tahir] ketika berkunjung ke UCLA tahun lalu telah
diminta oleh ketua jurusan islamic studies untuk memberikan ceramah singkat
tentang islam dan peranan depertemen agama di indonesia didepan beberapa guru
besar, meskipun acara itu tidak direncanakan semula berhubung padat nya acara
beliau hingga harus dilakukan sambil minum kopi setelah makan siang. Dr.
Nurcholish Madjid jika harus mengorbankan kesibukan nya ditanah air untuk
memberi kuliah di McGill University beberapa semester.
Para Mahasiswa dan peminat di Ucla
berkesempatan mendengarkan ceramah dan diskusi dengan banyak tokoh ilmuan dari
negeri negeri Muslim, antara lain Prof.Abdullahi Ahmed An-Naim ahli hukum islam
perbandingan dan hukum publik
internasional dr.Hasan Turabi ilmu-an ahtifis terkenal dari sudan, dan
prof.Nazif Sharani, ahli antropologi asia tengah asal Afganistan. Disamping
itu, tumbuh dan berkembang beberapa yayasan dan asosiasi yang dimotori dan
dikelola oleh ilmuan dan tokoh muslim amerika sendiri, seperti internasional
institute of islamic though (IIT) dan asosiasi of muslim social scientists
disamping makin vokal dan semaraknya aktifitas dan perkembangan umat islam
secara umum dibeberapa daerah di AS. Hampir semua yayasan, asosiasi dan islami
center ini menerbitkan jurnal dan publikasi sendiri. Berbagai forum seperti ini
banyak manfaat nya bagai semua pihak.
Studi tentang
timur dengan pendekatan pokok filologis dan sejarah berakibat pada metodologi
yang berkembang dalam disiplin filologis dan sejarah banyak dan terus berperan
dalam kejian keislaman hingga saat ini. Pendekatan dan metodologi ini sering
menitik beratkan penelitian naskah dan efidensi historis hingga kemudian produk
yang dihasilkan nya sering merupakan suatu konstruk ideal dan representasi
komunitas lapisan atas yang tidak menggambarkan kondisi masyarakat secara umum.
Kesadaran atas
hal inilah yang antara lain mendorong pengkajian islam juga dengan
mempergunakan pendekatan displin lain yang makin mapan pada awal abad ke 20.
Yang paling menonjol adalah penggunaan disiplin sosiologi, antropologi, dan
etnologi dalam mengkaji masyarakat muslim tertentu dan menghadirkan suatu
kesimpulan yang menggeneralisasikan seluruh umat islam. Hasil penelitian
Clifford Geertz dijawa, barang kali dapat diklompokan dalam pendekatan ini.
Hasil penelitian jenis ini juga tidak luput dari kritikan berbagai pihak,
terutama dari pihak pihka diluar disiplin tersebut. Hasil kesimpulan Geertz
contoh nya dikritik tajam oleh Marsahal Hodgson karena kenaifan Geertz tentang
tradisi agama islam dan bahasa arab. Salah satu disiplin yang banyak berperan
dan kelihatan lebih mengena adalah disiplin studi islam (study of religion) dan
sejarah agama (history of religions).
Jadi, perubahan
sikap dan pemahaman para pengkaji islam dalam konteks metodelogi dan [2]pendekatan
lebih bersifat dialegtis melalui pergumulan keilmuan yang sejalan dengan
perkembangan ilmu pengetahuan. Tentunya
juga berdasarkan perkembangan penafsiran umat islam terhadap sumber sunber ajaran islam sendiri, karena itu
dikehendaki oleh sumber ajaran islam yang senang tiasa relevan dalam ruang dan
waktu.[3]
METODOLOGI PEMAHAMAN ISLAM
A.
KEGUNAAN
METODOLOGI
Islam merupakan agama yang untuk
memahaminya secara utuh, harus dilihat dari berbagai dimensi. Di Indonesia yang
terdiri dari berbagai kebudayan dan berbagai kepentingan, Islam dipahami sesuai
dengan kepentingan masing-masing pihak. Sehingga terkesan bahwa pemahaman Islam
yang terjadi di masyarakat masih bercorak parsial, belum utuh dan belum pula
komprehensif. Dan sekalipun dijumpai adanya pemahaman Islam yang utuh dan
komprehensif, namun hal itu belum tersosialisasikan secara merata ke seluruh
masyarakat.
Oleh karena itu, diperlukan
metodologi yang di dalamnya dibahas mengenai berbagai macam metode yang bisa
digunakan dalam studi Islam. Agar studi Islam dapat tersusun secara sistematik
dan disampaikan menurut prinsip, pendekatan dan metode yang baik dan untuk
membuat Islam lebih responsive dan fungsional dalam memandu perjalanan umat
serta menjawab berbagai masalah yang dihadapi saat ini, diperlukan metode yang
dapat menghasilkan pemahaman Islam yang utuh dan komprehensif. Dalam hal ini,
Mukti Ali pernah mengatakan bahwa metodologi adalah masalah yang sangat penting
dalam pertumbuhan ilmu.
Ibarat akan pergi ke Jakarta dan
berangkat dari Yogyakarta, maka metodologi merupakan kajian atas cara-cara yang
bisa digunakan seperti naik sepeda motor, bus, kereta, ataupun pesawat terbang.
Bila dihubungkan dengan studi Islam, metodologi merupakan kajian tentang
metode-metode yang dapat digunakan untuk melaksanakan studi Islam.
Sejak
kedatangan islam pada abad ke 13M hingga saat ini, fenomena pemahaman keislaman
umat islam indonesia masih ditandai oleh keadaan amat fariatif. Kondisi pehaman
keislaman serupa ini barang kali terjadi pula diberbagai negara lain nya kita
tidak tahu persis apakah kondisi demikian itu merupakan sesuatu yang alami yang
harus ditrima sebagai suatu kenyataan untuk diambil hikmah nya atau diperlukan
adanya standar umum yang perlu diterapkan diberlakukan kepada berbagai paham
keagamaan yang fariatif itu, sehingga walopun keadaan nya amat berfariasi
tetapi tidak keluar dari ajaran yang terkandung dalam Al-Quran dan Al-Sunah
serta sejalan dengan data data historis yang dapat dipertanggung jawabkan
keabsahan nya.
Kita
misal nya melihat adanya sejumlah orang yang pengetahuan nya tentang keislaman
cukup luas dan medalam, namun tidak terkoordinasi dan tidak terusun secara sistematik.
Hal ini disebabkan karena orang tersebut ketika menerima ajaran islam tidak
sistematik dan tidak terorganisasikan secara baik. Mereka biasa nya datang dari
kalangan ulama yang berlajar ilmu keislaman secara otodidak atau kepada
berbagai guru yang antara satu dan lain nya tidak pernah saling bertemu dan
tidak pula berada dalam suatu acuan yang sama semacam kurikulum . akbat dari keadaan
demikian, maka yang bersangkutan tidak dapat melihat hubungan yang terdapat
dalam berbagai pengetahuan islam yang dipelajari nya itu, dan karenanya mereka
tidak dapat ditugaskan mengajar di
perguruan tinggi misalnya, lantaran pengajaran keislaman diperguruan tinggi
biasanya menuntut keteraturan dan pengorganisasi sebagaimana diatur dalam
kurikulum dan silabus.
Selanjutnya
kita melihat pula ada orang yang penguasaannya terhadap salah satu bidang
keilmuan cukup mendalam, tetapi kurang memahami disiplin itu keislaman lainnya,
bahkan pengetahuan yang bukan merupakan keahliannya itu dianggap sebagai ilmu
yang kelasnya berada di bawah kelas ilmu yang dipelajarinya. Kita melihat ilmu fiqih misalnya pernah[4] menjadi
primadona dan mendapatkan perhatian cukup besar. Akibat dari keadaan demikian,
maka segala masalah yang dinyatakan kepadanya selalu dilihat dari pridigma ilmu
fiqih. Ketika kepadanya ditanyakan tentang bagaimana cara mengatasi masalah placuran
misalnya, maka jawabannya,adalah dengan cara memusnahkan tempat-tempat
pelacuran tersebut, karena dianggap sebagai tempat maksiat. Padahal cara
tersebut tidak akan memecahkan masalah, kerena masalah pelacuran bukan sekedar
masalah keagamaan yang memerlukan ketetapan hukumnya melaikan juga masalah ketenaga
kerjaan, kesenjangan sosial, struktur sosial, sistem prekonomian, dan
sebagainya, yang dalam cara mengatasinya memerlukan keterlibatan orang lain.
Pada
tahap berikutnya, pernah pula yang menjadi primadona masyarakat adalah ilmu
kalam (teologi), sehingga setiap masalah yang dihadapinya selalu dilihat dari
pradigma teologi. Lebih dari itu teologi yang dipelajarinya pun hanya berpusat pada
paham asy’ari dan maturidiah (sunni), sedangkan paham lainnya dianggap sebagai
sesat. Akibat dari keadaan demikian, maka tidak terjadi dialog, keterbukaan,
saling menghargai, dan sebagainya.
Setelah itu
muncul pula paham keislaman bercorak tasawuf yang sudah mengambil bentuk
tarikan yang terkesan kurang menampilkan pola hidup yang seimbang antara urusan
duniawi dan urusan ukhrawi. Dalam tasawuf ini, kehidupan dunia terkesan
diabaikan. Umat terlalu mementingkan urusan akhirat, sedangkan urusan dunia
menjadi terbengkalai. Akibatnya keadaan umat menjadi mundur dalam bidang
keduniaan, materi, dan fasilitas hidup lainnya.
Dari
beberapa contoh tentang pemahaman keislaman diatas, kita dapat memperoleh kesan
bahwa hingga saat inipemaham islam yang terjadi dimasyarakat masih bercorak
persial, belum utuh dan dan belum pula komprehensif. Dan sekalipun kita
menjumpai adanya pemahaman islam yang sudah utuh dan komprehensif , namun
semuanya itu belum tersosialisasikan secara merata keseluruh masyarakat islam.
Pemahaman islam demikian baru diserap oleh sebagian sarjana yang secara
kebetulan membaca karya-karya mereka dengan sikap terbuka.
Pemahaman
keislaman tersebuat jelas tidak membuat yang bersangkutan keluar dari islam
yang belum tersusun secara sistematik dan belum disampaikan menurut prinsip,
pendekatan dan metode yang direncanakan dengan baik. Namun, untuk kepentingan
akademis dan untuk membuat islam lebih responsif dan fungsional dalam memandu
perjalanan umat serta menjawab berbagai masalah yang dihadapi saat ini,
diperlukan metode yang dapat menghasilkan pemahaman islam yang uth dan komprehensif.
Dalam hubungan ini Mukti Ali pernah mengatakan bahwa metodologi adalah masalah
yang sangat penting dalam sejarah pertumbuhan ilmu.
Kita
mengetahui bahwa pada abad pertengahan, Eropa menghabiskan waktu seribu tahun
dalam keadaan stagnasi dan masa bodoh. Tetapi stagnasi dan masa bodoh itu lalu
menjadi kebangkitan revolusioner yang multifaset dalam bidang sains, seni,
sastra, dan semua wilayah hidup dan kehidupan manusia dan sosial. Revolusi yang
mendadak dan energi yang mendadak dalam pemikiran manusia itu menghasilkan
peradaban dan kebudayaan dewasa ini. Kita harus bertanya kepada diri kita
mengapa orang mandeg sampai seribu tahun, dan apa yang terjadi pada dirinya yang
menyebabkan perubahan yang mendadak, ia bangkit dan [5]bangun,
sehingga dalam waktu 300 tahun Eropa menemukan kebenaran kebenaran yang tidak
mereka peroleh dalam seluruh waktu seribu tahun. Mengapa keadaan demikian
terjadi, dicarikan jawabannya oleh ahli.
Ali
Syari’ Ati (1933-1977), seorang sarjana Iran meninggal di rantau yaitu di
Inggris menyatakan bahwa faktor utama yang menyebabkan pemandegan dan stagnasi dalam
pemikiran, peradaban, dan kebudayaan yang berlangsung hingga seribu tahun di
Eropa pada abad pertengahan adalah metode pemikiran analogi dari Aristotelles.
Dikala cara melihat masalah objek itu berubah, maka sains, masyarakat, dan
dunia juga berubah, dan sebagai akibatnya kehidupan manusia juga berubah.
Dengan demikian kita dapat mengetahui dan memahami tentang pentingnya
metodologi sebagai faktor fudamental dalam renaisans.
Oleh
karena itu, metode memiliki peranan sangat penting dalam kemajuan dan
kemunduran. Demikian pentingnya metodologi ini, mukhti ali mengatakan bahwa
yang menentukan dan membawa stagnasi dan masa kebodohan atau kmajuan bukan lah
kerana ada atau tidak adanya orang-orang jenius, melainkan kerana metode
penelitian dan cara melihat sesuatu. Untuk ini kita dapat mengambil contoh yang
terjadi pada abad ke emat belas , lima belas dan enam belas masehi. Aristoteles
(384-322M) sudah barang tentu jauh lebih jenius dari francis bacon (1561-1626);
dan plato ((366-347 M) adalah lebih jenius dari roger bacon (1214-1294).
B.
STUDI ISLAM
Dikalangan
para ahli masih terdapat perdebatan di sekitar permasalahn apakah studi islam (agama)
dapat dimasukkan kedalam bidang ilmu pengetahuan dan agama berbeda. Pemahaman
disekitar permasalahan ini banyak dikemukakan oleh para pemikir islam
diblakangan ini. Amin abdullah, misalnya
mengatakan jika penyelanggaraan dan penyampaian islamic studies atau
Dirasah islamiyah hanya mendengarkan dakwah keaagamaan didalam kelas, lalu apa
bedanya dengan kegiatan pengajian dan dakwah yang sudah ramai diselenggarakan
diluar bangku kuliah?menurut amin abdullah, pangkal tolak kesulitan
pengembangan scopy wilayah kajian islamic studies atau dirasah islamiyah
berakar pada kesukaran seorang agamawan untuk membedakan antara yang
normativitas dan historisitas. Pada
dataran normativitas kelihatan islam kurang pas untuk dikatakan sebagai
disiplin ilmu, sedangkan untuk dataran historisitas tampaknya tidaklah salah.
Perbedaan dalam melihat Islam yang demikian itu dapat
menimbulkan perbedaan dalam menjelaskan Islam itu sendiri. Ketika Islam dilihat
dari sudut normatif, Islam merupakan agama yang di dalamnya berisi ajaran Tuhan
dengan urusan akidah dan muamalah sedangkan ketika Islam dilihat dari sudut
historis atau sebagaimana yang tampak dalam Islam tampil sebagai sebuah
disiplin ilmu (Islamic Studies).
C.
METODE MEMAHAMI
ISLAM
Ada beberapa tokoh yang mengemukakan
pendapat tentang metode atau cara memahami Islam, diantaranya:
1.
Menurut Nasruddin Razak
Upaya memahami islam secara baik, benar dan kompherensif
perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut:
a.
Islam harus dipelajari dari
sumbernya yang asli yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah Rasulullah saw. Kekeliruan
memahami Islam, karena orang hanya mengenalnya dari [6]sebagian
ulama yang telah jauh dari bimbingan Al-Qur’an dan As-Sunnah, atau melalui
pengenalan dari sumber kitab-kitab fikih dan tasawuf yang semangatnya sudah
tidak sesuai dengan perkembangan zaman.
b.
Islam harus dipelajari secara
integral, tidak parsial. Artinya dipelajari secara menyeluruh sebagai satu
kesatuan, tidak hanya sebagian saja. Memahami Islam secara parsial akan
membahayakan, menimbulkan sikap skeptis, bimbang, dan penuh keraguan.
c.
Islam perlu dipelajari dari
kepustakaan atau buku-buku yang ditulis oleh para ulama besar, cendikiawan
muslim, sarjana-sarjana Islam, karena pada umumnya mereka memiliki pemahaman
yang baik, yaitu pemahaman yang lahir dari perpaduan ilmu yang dalam terhadap
Al-Qur’an dan As-Sunnah Rasulullah saw. dengan pengalaman dari praktik ibadah
yang dilakukannya setiap hari.
d.
Islam hendaknya dipelajari dari
ketentuan-ketentuan normatif teologis yang ada dalam Al-Qur’an, baru kemudian
dihubungkan dengan kenyataan historis, empiris dan sosiologis yang ada di
masyarakat.
e.
Islam dipelajari dan dihubungkan
dengan berbagai persoalan yang dihadapi msnusia dalam masyarakat dan dilihat relasi
serta relevansinya dengan persoalan-persoalan politik, ekonomi, sosial, budaya,
sains sepanjang sejarah manusia terutama sejarah umat Islam.
f.
Islam dipelajari dengan bantuan
ilmu-ilmu pengetahuan yang berkembang sampai sekarang, seperti ilmu-ilmu alamiah,
ilmu-ilmu sosial, serta ilmu-ilmu kemanusiaan.
g.
Islam dipelajari dengan metode yang
sesuai dengan agama dan ajaran Islam.
2.
Menurut Ali Syari’ati
Ali Syari’ati lebih lanjut
menyatakan, ada berbagai cara dalam memahami Islam melalui metode perbandingan,
yaitu :
1.
Mengenal Allah dan membandingkan-Nya
dengan sesembahan agama-agama lain.
2.
Mempelajari kitab Alquran dan
membandingkannya dengan kitab-kitab ajaran agama lainnya
3.
Mempelajari kepribadian Rasulullah
dan membandingkannya dengan tokoh-tokoh besar pembaruan yang pernah hidup dalam
sejarah.
4.
Mempelajari tokoh-tokoh Islam
terkemuka dan membandingkannya dengan tokoh-tokoh utama agama maupun
aliran-aliran lain.
terdapat metode lain dalam memahami Islam
yaitu metode tipologi. Metode ini oleh banyak ahli sosiologi dianggap objektif,
berisi klasifikasi topik dan tema yang mempunyai tipe yang sama. Terdapat lima
aspek atau ciri dari agama Islam, yaitu[8]
1)
aspek ketuhanan,
2)
aspek kenabian,
3)
aspek kitab suci,
4)
aspek keadaan sewaktu munculnya nabi
dan orang-orang yang didakwahinya serta individu-individu terpilih yang
dihasilkan oleh agama itu.
4.
menurut Ali Anwar Yusuf
dalam bukunya Studi Agama Islam, terdapat tiga
metode dalam memahami agama Islam , yaitu:
1. Metode Filosofis
Filsafat adalah suatu cabang ilmu
pengetahuan yang membahas segala sesuatu dengan tujuan untuk memperoleh
pengetahuan sedalam-dalamnya sejauh jangkauan kemampuan akal manusia, kemudian
berusaha untuk sampai kepada kesimpulan-kesimpulan yang universal dengan
meneliti akar permasalahannya. Memahami Islam melalui pendekatan filosofis ini,
seseorang tidak akan terjebak pada pengalaman agama yang bersifat formalistik,
yakni mengamalkan agama dengan tidak memiliki makna apa-apa atau kosong tanpa
arti. Namun bukan pula menafikan atau menyepelekan bentuk ibadah formal, tetapi
ketika dia melaksanakan ibadah formal disertai dengan penjiwaan dan penghayatan
terhadap maksud dan tujuan melaksanakan ibadah tersebut.
2. Metode Historis
Metode historis ini sangat
diperlukan untuk memahami Islam, karena Islam itu sendiri turun dalam situasi
yang konkret bahkan sangat berhubungan dengan kondisi sosial kemasyarakatan.
Melalui metode sejarah, seseorang diajak untuk memasuki keadaan yang sebenarnya
dan hubungannya dengan terjadinya suatu peristiwa.
3. Metode Teologi
Metode
teologi dalam memahami Islam dapat diartikan sebagai upaya memahami Islam
dengan menggunakan kerangka ilmu ketuhanan yang bertolak dari satu keyakinan. [9]Bentuk
metode ini selanjutnya berkaitan dengan pendekatan normatif, yaitu suatu
pendekatan yang memandang Islam dari segi ajarannya yang pokok dan asli dari
Allah yang di dalamnya belum terdapat penalaran pemikiran manusia. Dari beberapa metode diatas kita melihat bahwa metode
yang dapat digunakan untuk memahami Islam secara garis besar adalah dengan
metode Komparasi, yaitu suatu cara memahami agama dengan membandingkan seluruh
aspek yang ada dalam agama Islam tersebut dengan agama lainnya, dengan demikian
akan dihasilkan pemahaman Islam yang obyektif dan utuh.
Metode ilmiah digunakan untuk memahami Islam yang
terkandung dalam kitab suci. Melalui metode teologis normatif ini seseorang
memulai dari meyakini Islam sebagai agama yang mutlak benar. Hal ini didasarkan
pada alasan, karena agama bersal dari Tuhan, dan apa yang berasal dari Tuhan
Mutlak benar, maka agamapun mutlak benar. Setelah itu dilanjutkan dengan
melihat agama sebagai norma ajaran yang berkaitan dengan aspek kehidupan
manusia yang secara keseluruhan diyakini amat ideal. Melalui metode teologi
normatif yang tergolong tua usianya ini dapat dihasilkan keyakinan dan
kecintaan yang kuat, kokoh dan militan pada Islam, sedangkan metode ilmiah yang
dinilai sebagai tergolong muda usianya ini dapat dihasilkan kemampuan
menerapkan Islam yang diyakini dan dicintainya itu dalam kenyataan hidup serta
memberi jawaban terhadap berbagai permasalahan yang dihadapi manusia.[10]
TUJUAN
METODOLOGI
Adapun tujuan sebuah metodologi dalam upaya mempelajari dan
memahami Islam antara lain sebagai berikut:
1.
Untuk menghindari terjadinya kesalahpahaman
dalam memahami Islam atau pemahaman Islam yang sesat.
2.
Untuk memberikan petunjuk cara-cara
memahami Islam secara tepat, benar, sistematis, terarah, efektif, efisien, dan
membawa orang untuk mengikuti kehendak agama. Bukan sebaliknya, agama yang
harus mengikuti kehendak masing-masing orang.
3.
Penguasaan metode yang tepat akan
menjadikan seseorang dapat mengembangkan ilmu yang dimilikinya. Sebaliknya
orang yang tidak menguasai metode hanya akan menjadi konsumen ilmu semata,
tidak akan memproduksi suatu ilmu.
PERBEDAAN
METODE DAN METODOLOGI
1.
Metode
·
Merupakan
langkah – langkah praktis dan sistematis yang ada dalam ilmu – ilmu tertentu
yang sudah tidak dipertanyakan lagi (aplikatif).
·
Dianggap sudah bisa mengantarkan seseorang
mencapai kebenaran dalam ilmu tersebut.
·
Tidak
ada perdebatan, refleksi dan kajian atas cara kerja ilmu pengetahuan.
·
Tidak
menjadi bagian dari sistematika filsafat.
2.
Metodologi
·
Merupakan
kajian tentang cara kerja ilmu pengetahuan.
·
Terbuka luas untuk mengkaji, mendebat dan
merefleksi cara kerja suatu ilmu.
·
Tidak
lagi sekedar kumpulan cara yang sudah diterima tetapi berupa kajian tentang
metode.
·
Metodologi juga menjadi bagian dari
sistematika filsafat.3[11]
BAB III
KESIMPULAN
Dari pembahasan di atas penulis
dapat menarik beberapa kesimpulan sebagai berikut :
1.
metodologi pemahaman islam
adalah cara-cara yang dikemukakan oleh
seseorang atau kelompok dengan tidak keluar dari pedoman agama Islam itu
sendiri (Al-Qur’an dan hadits) supaya dapat magetahui bagaimana cara memahami agama
islam dengan benar.
2.
Metodologi dalam hal pemahaman Islam
digunakan untuk mengetahui metode-metode yang tepat agar dapat diperoleh hasil
yang utuh dan objektif dalam pemahaman Islam
3.
Metode pemahaman islam terbagi
menjadi 3 bagian, yaitu :
1.
Kegunaan metodologi
Islam merupakan agama yang untuk
memahaminya secara utuh, harus dilihat dari berbagai dimensi. Di Indonesia yang
terdiri dari berbagai kebudayan dan berbagai kepentingan, Islam dipahami sesuai
dengan kepentingan masing-masing pihak. Sehingga terkesan bahwa pemahaman Islam
yang terjadi di masyarakat masih bercorak parsial, belum utuh dan belum pula
komprehensif. Dan sekalipun dijumpai adanya pemahaman Islam yang utuh dan
komprehensif, namun hal itu belum tersosialisasikan secara merata ke seluruh
masyarakat.
2.
studi islam
Dikalangan
para ahli masih terdapat perdebatan di sekitar permasalahn apakah studi islam
(agama) dapat dimasukkan kedalam bidang ilmu pengetahuan dan agama berbeda.
Pemahaman disekitar permasalahan ini banyak dikemukakan oleh para pemikir islam
diblakangan ini.misalnya : Amin abdullah
3.
metode memahami islam
Ada beberapa tokoh yang mengemukakan
pendapat tentang metode atau cara memahami Islam, diantaranya:
1.
Menurut Nasruddin Razak
2.
Menurut Ali Syari’ati
3.
Menurut Mukti Ali,
4.
menurut Ali Anwar Yusuf
Dalam memahami Islam dapat digunakan
beberapa metode, di antaranya metode filosofis, historis, dan teologis.
DAFTAR PUSTAKA
Prof. Dr. H.
Abuddin Nata, M.A, metodologi studi
islam, (jakarta:PT RajaGrafindo persada, 2006)
Abdullah, M. Yatimin. Studi
Ilmu Kontemporer, (Jakarta: Amzah 2006)
Hakim, Tatang Abdul dan Jaih
Mubarok. Metodologi Studi Islam.
(Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2009)
[3]
Prof. Dr.
H. Abuddin Nata, M.A, metodologi studi
islam, (jakarta:PT RajaGrafindo persada, 2006), cet. Hal:143-144
[4]
Prof. Dr.
H. Abuddin Nata, M.A, metodologi studi
islam, (jakarta:PT RajaGrafindo persada, 2006), cet. 144-145
[5]
Prof. Dr.
H. Abuddin Nata, M.A, metodologi studi
islam, (jakarta:PT RajaGrafindo persada, 2006), cet. 146-150
[6]
Abdullah, M. Yatimin. Studi
Ilmu Kontemporer, (Jakarta: Amzah 2006)
mantaps mba
BalasHapusmantaps mba
BalasHapusMantul
BalasHapusCasino Site | The Best Online Casino for US Players
BalasHapusCheck our 바카라 trusted casino 카지노 site for real 바카라 money with free no deposit bonuses, bonus codes, free spins, instant play, and more!